Author Archives: mohammadsholeh

Kewiraswastaan atau Entrepreneur

Kewiraswastaan atau Entrepreneur

Oleh : Mohammad Sholeh, SE

Secara etimologis, wiraswasta merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata ‘wira’ dan ‘swasta’. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari dua kata : ‘swa’ dan ‘sta’. Swa artinya sendiri, sedangkan Sta berarti berdiri. Swasta dapat diartikan sebagai berdiri menurut kekuatan sendiri.

Wiraswasta ialah keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri.

Dengan demikian pengertian wiraswasta bukan hanya sekedar usaha partikelir atau kerja sambilan di luar dinas negara, melainkan sifat-sifat keberanian, keutamaan, keuletan dan ketabahan seseorang dalam usaha memamjukan prestasi kekaryaan, baik dibidang tugas kenegaraan maupun partikelir dengan menggunakan kekuatan diri sendiri.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta orang yang memiliki :

  1. potensi untuk berprestasi
  2. memiliki motivasi yang besar
  3. maju berprestasi
  4. mampu menolong dirinya sendiri
  5. mampu mengatasi permasalahan hidup
  6. mampu memenuhi kebutuhan hidup
  7. mampu mengatasi kemiskinan
  8. tidak menunggu bantuan/pertolongan
  9. tidak suka bergantung kepada pihak lain
  10. tidak suka menunggu uluran tangan
  11. tidak suka tergantung kepada alam
  12. tidak mudah menyerah kepada alam
  13. berusaha untuk menundukkan alam

Untuk mencapai atau memiliki kualitas manusia wiraswasta, seseorang harus memiliki kekuatan sebagai modal. Sedang untuk memiliki modal kekuatan ini orang harus belajar, sehingga padany terdapat sumber daya manusia.

Orang yang mampu mengenal diri akan menyadari, bahwa di dalam dirinya terdapat kelemahan ataupun kekuatan pribadi. Pribadi yang lemah dilandasi oleh jiwa yang pesimis, statis, tergantung dan masa bodoh, sedangkan pribadi yang kuat dilandasi oleh jiwa yang optimis, dinamis dan kreatif.

Bagaimanakah cirri-ciri pribadi yang kuat ? kita hendaknya tidak membiarkan diri untuk dikuasai oleh jiwa yang kerdil (penuh dengan pesimistis, statis, ketergantungan, dan kebodohan). Bilamana orang membiarkan dirinya terkuasai oleh jiwa kerdilnya, maka ia akan memperoleh kehidupan yang kerdil pula.

Manusia yang berkepribadian kuat memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

  1. memiliki moral yang tinggi
  2. memiliki sikap mental wiraswasta
  3. memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan
  4. memiliki ketrampilan wiraswasta

Manusia yang bermoral tinggi itu setidak-tidaknya memiliki/menjalankan enam sifat utama :

  1. ketaqwaan kepada Allah SWT
  2. kemerdekaan batin
  3. keutamaan
  4. kasih sayang terhadap sesama manusia
  5. loyalitas hokum
  6. keadilan

Keyakinan yang kuat dapat kita tumbuhkan didalam jiwa kita dengan syarat :

  1. kita harus mengenal diri kita sindiri sebagai makhluk yang memiliki kelemahan, namun memperoleh anugerah kekuatan dari Allah SWT untuk mengatasi kelemahan kita itu
  2. kita harus percaya kepada diri sendiri, bahwa kita memiliki potensi tersendiri yang tidak kurang kuatnya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Coba renungkan, kalau orang lain bisa mencapai kesuksesan, mengapa kita tidak bisa ?
  3. kita harus mengetahui dengan jelas terhadap tujuan-tujuan serta kebutuhan kita, dimana kita dapat mendapatkannya, bagaimana cara-cara untuk mencapai atau memenuhinya, serta kapan/berapa lama target waktu untuk mencapai/memenuhinya. Setiap tujuan, kebutuhan dan rencana-rencana kita harus senantiasa menguasai jiwa kita dengan penuh kesadaran. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian timbul pula kegairahan dan semangat untuk maju dan kita terdorong dan tergerak untuk berbuat.

Adapun cara-cara untuk menumbuhkan sifat-sifat kejujuran dan tanggungjawab adalah dengan :

1. mendidik diri sendiri sehingga memiliki moral yang tinggi. Dengan perkataan lain, kita hendaknya belajar:

- untuk bertaqwa kepada Allah Swt

- belajar untuk memperoleh kemerdekaan batin

- belajar untuk mementingkan keutamaan

- belajar untuk mematuhi hokum-hukum yang berlaku

- belajar untuk berlaku adil kepada sesame manusia

2. melatih disiplin diri sendiri (‘self descpline’). Kita akan mustahil untuk begitu saja menjadi manusia jujur dan bertanggungjawab, apabila kita tidak membina kepribadian kita. Rasa tanggungjawab dapat ditumbuhkan didalam diri kita melalui latihan berdisiplin. Dengan melatih disiplin diri sendiri, maka kita akan memperoleh ketabahan, keuletan dan keteraturan tingkah laku dan perbuatan kita.

Latihan disiplin diri diri sendiri dapat kita lakukan dengan jalan :

a. membatasi keinginan-keinginan kita. Hidup kita diliputi oleh berbagai macam keinginan, baik keinginan-keinginan daging/jasmani, maupun keinginan-keinginan jiwa/rohani. Akibat dosa yang ditanggung oleh manusia, maka tidak semua keinginan kita adalah baik atau positif. Oleh karena itu kita harus belajar mengekang atau membatasi berbagai macam keinginan kita, terutama keinginan-keinginan yang negatif yang merugikan kelestarian hidup kita.

b. melatih daya kemauan kita agar menjadi lebih kuat. Telah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa kemauan kita dapat terancam oleh kondisi-kondisi yang memperkuat atau memperlemah kemauan.

Beberapa hal yang perlu kita miliki untuk menjadi manusis tahan uji lahir batin adalah :

a). Sehat Jasmani dan Rohani

b). Memiliki Kesabaran

c). Memiliki Ketabahan

untuk dapat bekerja keras itu perlu ditunjang dengan :

a). Ketekunan Bekerja

b). Keuletan Berjuang

Manusia yang bersikap mental wiraswasta setidak-tidaknya memiliki enam kekuatan mental yang membangun kepribadian yang kuat :

1). Berkemauan keras

2). Berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi,

untuk ini diperlukan :

a). Pengenalan diri

b). Kepercayaan pada diri sendiri

c). Pemahaman tujuan dan kebutuhan

3). Kejujuran dan tanggungjawab,

Untuk ini diperlukan adanya :

a). Moral yang tinggi

b). Disiplin diri sendiri

4). Ketahanan fisik dan mental,

Untuk ini diperlukan :

a). Kesehatan jasmani dan rohani

b). Kesabaran

c). Ketabahan

5). Ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras

6). Pemikiran yang konstruktif dan kreatif

Manusia wiraswasta setidak-tidaknya harus memiliki empat hal agar dirinya peka/sensitive terhadap arti lingkungan bagi kehidupannya :

1. pengenalan terhadap arti lingkungan

2. rasa syukur atas segala yang diperoleh dan dimiliki

3. keinginan yang besar untuk menggali dan mendayagunakan sumber-sumber ekonomi lingkungan setempat

4. kepandaian untuk menghargai dan memanfaatkan waktu secara efektif

Pada garis besarnya, pemikiran ilmiah dapat berlangsung dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1). Merumuskan tujuan, keinginan dn kebutuhan baik bagi diri sendiri maupun bagi pihak lain

2). Merumuskan permasalahan yang berhubungan dengan usaha mencapai tujuan, keinginan dan kebutuhan diatas

3). Menghimpun fakta-fakta obyektif yang berhubungan dengan obyek yang sedang kita fikirkan

4). Mengolah fakta-fakta itu dengan pola berfikir tertentu, baik secara induktif ataupun deduktif, atau mencari hubungan antar fakta sehingga ditemukan berbagai alternatif

5). Memilih alternatif yang dirasa paling tepat

6). Menguji alternatif itu dengan mempertimbangkan hukum sebab akibat sehingga ditemukan manfaat alternatif itu bagi kehidupan

7). Menemukan dan meyakini gagasan

8). Mencetuskan gagasan itu, baik secara lisan maupun tertulis

Maka ketrampilan berpikir kreatif membutuhkan dua hal :

1. daya imajinasi yang menunjang proses berpikir

2. cara berfikir ilmiah

Dalam proses pembuatan keputusan, keragu-raguan dan ketidak setujuan diperlukan, karena keraguan dan ketidak setujuan bermanfaat untuk :

1). Memungkinkan penerimaan bersama terhadap keputusan yang diambil

2). Memoerkaya alternative-alternatif untuk melahirkan keputusan yang lebih mantap.

3). Keraguan merangsang daya imajinasi untuk mendapatkan jawaban yang benar terhadap suatu masalah. Daya imajinasi bekerja bersama pikiran untuk menelaah masalah dalam situasi baru sehingga diperoleh pengenalan dan pengertian.

Beberapa hal yang perlu digaris bawahi dalam usaha melatih ketrampilan untuk memimpin diri sendiri yaitu dengan jalan sebagai berikut :

1. Mengenal diri sendiri

2. Melatih kemauan

3. Melatih disiplin diri sendiri

Kualitas kepribadian seseorang menentukan ketrampilan kepemimpinan seseorang. Adapun kualitas kepribadian itu meliputi :

1). Kapasitas mental (intelegensi, fasilitas verbal dan nalar)

2). Prestasi (gelar kesarjanaan, pengalaman pendidikan, pengalaman kerja dan pengetahuan

3). Tanggungjawab (ketergantungan, kepercayaan pada diri sendiri dan ambisi)

4). Partisipasi (kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan bergaul dan aktivitas)

5). Status (posisi sosial-ekonomi dan popularitas)

Oleh karena itu ketrampilam kepemimpinan seseorang ditentukan oleh beberapa faktor berikut :

1. kemauan bergaul dengan orang lain

2. mengenal dan belajar melayani kebutuhan orang lain

3. suka mengambil inisiatif

4. memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan orang lain

5. mampu membangun moral kerja dalam kelompok

6. menciptakan situasi pekerjaan yang menantang dan menyenangkan

7. berusaha memberikan banyak sumbangan bagi pemecahan masalah kelompok

8. mampu membimbing pengertian dan tingkah laku kelompok untuk tercapainya tujuan bersama

9. suka bertukar fikiran dan pendapat dengan orang lain

a.      Keimanan dan semangat

(1). Beriman dan berbuat kebaikan

(2). Bersyukur kepada Allah Swt

(3). Percaya pada diri sendiri

(4). Memelihara kepercayaan orang yang dipercayakan kepadanya

(5). Rasa keadilan yang sejauh mungkin seimbang

(6). Inisiatif (prakarsa) dan disiplin diri

(7). Rasa tanggungjawab dalam kehidupan

(8). Keutamaan memajukan lingkungan (kecil-besar)

(9). Tahu apa maunya (cita-cita)

(10). Tekad menyebar-luaskan segala hal yang baik

(11). Berani mengambil resiko

(12). Riwayat hidup orang-orang besar kalangan pemerintah dan swasta sedunia

b.      Sikap mental kebiasaan watak kepribadian

(1). Sikap mental maju

(2). Gairah mengutamakan memberi dari pada menerima

(3). Ulet dan tekun

(4). Pandai bergaul; kepribadian menyenangkan (tidak kikir dengan senyuman)

(5). Meyakinkan diri sebelum bertindak

(6). Menolak benih fikiran kotor

(7). Mensyukuri dan menghargai waktu

(8). Seni bicara dengan santun

(9). Menghilangkan perasaan khawatir, iri hati, prasangka dan keserakahan

(10). Solidaritas persahabatan (kesetiakawanan)

(11). Kesetiaan

(12). Menghormati tertib hokum

(13). Tidak berlebihan dalam hal apapun

(14). Tidak gila hormat, pangkat, gelar dan kekuasaan

(15). Tahu diri dimanapun dan dalam keadaan apapun

(16). Kehormatan, Martabat & Harga Diri

(17). Mengendalikan diri (nafsu, beli, rakus)

(18). Kejujuran

(19). Memajukan Lingkungan

(20). Menolak pemberian tanpa berkarya

c.       Daya Pikir Kreatif

(1). Berpikir maju (bebas-positif)

(2). Belajar sendiri

(3). Menarik pelajaran dari kegagalan dan perjalanan

(4). Buku Harian

(5). Pengalaman dan nasehat orang lain

(6). Keutamaan hasil kerjasamna

(7). Keberhasilan berkarya

(8). Dunia selalu haus akan sesuatu yang baru

(9). Efisiensi

(10). Kewaspadaan mental

d.      Daya penggerak diri

(1). Kegairahan

(2). Diri Idaman (Imajinasi)

(3). Kesediaan berupaya untuk berhasil

(4). Menolak pemberian motivasi keberhasilan

(5). Psycho-Cyberneties (sibernetik kejiwaan)

(6). Pikiran kreatif

(7). Pikiran bawah sadar

(8). Pikiran akal

(9). Hati Nurani

(10). Daya cipta (menulis, melukis dan berkarya)

(11). Mengenal kesempatan

e.       Resiko dan persaingan

(1). Mengenal risiko

(2). Keahlian mengambil risiko

(3). Risiko pertengahan

(4). Risiko dan Inisiatif

(5). Tiada sesuatu tanpa risiko

(6). Risiko yang diasuransikan

(7). Risiko yang tidak dapat diasuransikan

(8). Risiko perjudian

(9). Persaingan dan kerjasama

f.       Kemampuan meyakinkan

(1). Keyakinan sendiri

(2). Meyakinkan

(3). Mengenal barang dan jasa sendiri

(4). Salesmanship

(5). Sikap-sikap dalam menjual

(6). Mengenal pasar

(7). Mengenal calon pembeli

(8). Siap akan jalan pemecahan

(9). Cara menjual

(10). Manfaat dan keuntungan calon pembeli

(11). Kejujuran mengenai kerusakan barang dagangan

g. Watak  wiraswasta

a). Berwatak maju

b). Bergairah dan mampu menggunakan daya penggerak dirinya

c). Berpandangan positif dan kreatif

d). Selalu mengutamakan memberi daripada meminta atau mengemis

e). Ulet dan tekun, tidak lekas putus asa

f). Pandai bergaul

g). Memelihara kepercayaan yang diberikan kepadanya

h). Berkepribadian menyenangkan (banyak senyum)

i). Selalu ingin meyakinkan diri sebelum bertindak

j). Menolak dan memberantas benih-benih kebiasaan cara berfikir, bersikap dan berbuat negative dan lebih mengutamakan benih kebiasaan cara berfikir, bersikap mental dan berbuat positif (membawa kemajuan)

k). Sangat menghargai dan mendayagunakan waktu sampai pada satuan waktu yang kecil sekalipun

l). Memelihara seni berbicara dan kesopanan

m). Tidak ragu-ragu atau khawatir terhadap saingan yang timbul dari bawah maupun dari atas

n). Bersedia melakukan pekerjaan kasar dan rendahan (pengorbanan)

o). Tidak akan pernah mementingkan diri sendiri dan tidak akan pernah rakus atau serakah

p). Setia kepada pimpinan sebagai peserta yang baik dan penuh rasa kesetia-kawanan

q). Menghormati tertib hokum

r). Tidak berlebihan dalam hal apapun (tidak menampilkan diri dari kehidupan secara ‘overacting’)

s). Tidak gila pangkat dan gelar

t). Tidak gila kekuasaan

u). Memiliki tenggang rasa yang kuat (tahu diri)

v). Selalu mengejar martabat, kehormatan dan harga diri yang semakin tinggi, bukan menjualnya

w). Menahan diri dari keinginan berbelanja yang tidak terkendali, namun meningkatkan keinginan berproduksi dan kalau perlu menggalakkan aktifitas jual

x). Selalu mensyukuri yang kecil-kecil yang dialami atau ada pada diri sendiri

y). Beriman dan beramal baik sebagai syarat kepribadian yang jujur dan bertanggungjawab

z). Berusaha memperkuat daya kemauan, sanggup bekerja keras tidak mengenal lelah

h. Jiwa Wiraswasta

a).  Beriman dan berbuat kebaikan

b). Percaya pada diri sendiri

c). Tidak suka tergantung kepada pihak lain, selalu mengutamakan tindakan berdikari

d). Berinisiatif, suka berkreasi dan menemukan hal-hal baru

e). Mempunyai rasa tanggungjawab, tidak suka mengingkari janji

f). Berdisiplin diri sendiri

g). Bertekad untuk dapat memajukan lingkungan

h). Berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan secara masak-masak

i). Bertekad untuk menyebar-luaskan segala hal yang positif kepada kepentingan umum

j). Rasa keadilan yang sedapat mungkin diusahakan seimbang

k). Mempunyai tujuan-tujuan hidup dan cita-cita yang jelas

l). Memiliki kemauan yang kuat untuk hidup maju

i. Daya Pikir dan Ketrampilan Wiraswasta

a). Mampu mengendalikan kemauan untuk merencanakan kehidupan masa depan. Rencana itu sedapat mungkin disusun secara operasional

b). Suka mengajak orang lain untuk bekerjasama

c). Bermotivasi tinggi untuk berprestasi

d). suka belajar dengan membaca dan berpraktek untuk memperoleh hasil yang memuaskan

e). Menjadikan pelajaran dari kegagalan-kegagalan dalam petualangan dan perjuangan

f). Suka belajar dari pengalaman orang lain dan pengalaman diri sendiri

g). Suka mendengarkan pendapat dan nasehat dari orang lain untuk disaring dan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup

h). Suka mengikuti kursus-kursus atau latihan-latihan

i). Dapat berfikir merdeka dalam arti obyektif dan positif

j). Lebih mengutamakan kesuksesan berkarya dan memperoleh kepuasan atas hasil pekerjaannya sendiri

k). Lebih mengutamakan hasil kerjasama dalam usahanya daripada sekedar mengharapkan gaji atau upah melulu

l). Melayani dunia yang senantiasa haus akan barang-barang baru atau penemuan baru

m). Memperhatikan efisiensi dan efektifitas

n). Bersedia memberikan secara efisien sebagian hasil jerih payahnya untuk memajukan kehidupan lingkungannya

o). Mengalihkan diri dalam menghadapi risiko, persaingan, kerjasama dan kerugian, dengan daya saing yang kuat namun bermartabat

j. Berikut ini dikemukakan beberapa diantara cirri-ciri manusia wiraswasta dibidang pendidikan :

1). Mengerti dengan jelas tujuan-tujuan atau prestasi yang harus dicapai di dalam belajar dan bertingkah laku, baik di rumah, di sekolah, maupun di dalam masyarakat

2). Memiliki motivasi belajar yang kuat untuk mencapai prestasi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat

3). Berkemauan keras untuk menyelesaikan semua tugas dan pekerjaan demi kemajuan belajarnya yang telah direncanakan. Ia sanggup bekerja keras meskipun terasa berat

4). Percaya pada diri sendiri dalam setiap menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Ia tidak merasa bimbang atau ragu dalam setiap memulai dan menyelesaikan tugas-tugas itu

5). Suka berusaha untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas dalam belajar dengan menggunakan kekuatan pribadinya sendiri. Ia tidak suka terlalu tergantung kepada orang lain, tidak suka minta tolong kepada orang lain dalam mengerjakan setiap tugas yang dibebankan kepadanya

6). Mampu mendayagunakan waktu untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas belajar secara kreatif. Waktu-waktu belajar dan bahkan waktu-waktu senggang dapat dimanfaatkan untuk menemukan makna, pengertian dan pengalaman hidup, misalnya sewaktu mengobrol, menonton pertunjukan, berekreasi dsb, bukan semata-mata hanya untuk santai atau iseng belaka, melainkan untuk membelanjakan diri

7). Rajin, tekun, ulet dan tabah dalam belajar meskipun menghadapi berbagai macam godaan dan rintangan, demi kesuksesan belajarnya

8). Tidak suka menunda-nunda pekerjaan yang mestinya dapat dikerjakan  sekarang

9). Bekerja dengan teliti dan cermat untuk menghindari kesalahan-kesalahan. Tidak suka ngawur, tetapi selalu bersikap ilmiah

k. Masalah pendayagunaan potensi-potensi kepribadian ini akan lebih banyak ditentukan oleh :

1). Pribadi manusia yang bersangkutan, terutama faktor kemauan dan keyakinannya pada diri sendiri

2). Orang lain atau pihak lain yang membutuhkan tenaga kerja manusia

3). Kesempatan yang tersedia bagi manusia yang bersangkutan untuk berkarya dan berprestasi

Berikut ini adalah sekedar petunjuk untuk membagi dan mendayagunakan waktu kita secara efisien :

1). Sadarilah bahwa waktu adalah sangat berharga untuk mengisi kehidupan kita dengan berkarya dan berprestasi. Pemborosan waktu akan menghambat kemajuan kita untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi

2). Renungkanlah hal-hal yang menjadi tujuan-tujuan didalam hidup anda, setelah itu coba rumuskan tujuan-tujuan itu secara operasional dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang memperlancar dan yang menghambat tercapainya tujuan-tujuan tersebut

3). Buatlah perencanaan usaha dan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Perencanaan ini hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

-         merenungkan keberhasilan-keberhasilan yang pernah dialami, serta faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan tersebut

-         merenungi kegagalan-kegagalan yang pernah diderita, serta faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut

-         merenungi kelengahan dan kelemahan yang terdapat didalam pribadi anda, serta cara-cara mengatasi kelengahan dan kelemahan itu dengan kekuatan sendiri, yaitu dengan belajar/mendidik diri sendiri

-         rancanglah jenis-jenis usaha dan kegiatan untuk mengisi hidup kita dan yang kiranya dapat menolong ke arah tercapainya tujuan-tujuan hidup kita

-         tentukan prioiritas-prioritas usaha dan kegiatan yang dirasa penting untuk didahulukan realisasinya. Sehubungan dengan itu, buatlah perencanaan untuk usaha dan kegiatan-kegiatan saat sekarang, usaha dan kegiatan-kegiatan jangka menengah, dan yang jangka panjang

4). Biasakanlah diri kita untuk membagi dan menepati waktu dalam kehidupan sehari-hari pada setiap hari. Dalam hal ini akan lebih efektif apabila kita suka menyusun jadual kegiatan, baik harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Jadual ini akan menolong mengarahkan setiap langkah hidup kita, meskipun pelaksanaannya dapat secara fleksibel dalam arti bisa berubah menurut situasi dan kondisi

5). Latihlah disiplin diri sendiri didalam setiap melaksanakan kegiatan yang telah dijadualkan. Kita harus tahan dari setiap godaan yang dapat menggagalkan pelaksanaan rencana, misalnya ajakan pergi berdagang, acara televisi yang menarik, adanya pertandingan tinju, dan sebagainya. Usahakanlah tugas/kegiatan yang sedang dihadapi dapat diselesaikan pada waktunya

6). Untuk memperkuat disiplin diri, usahakanlah untuk membiasakan diri bekerja dengan konsentrasi penuh, untuk itu carilah tempat bekerja yang tenang, bebas dari berbagai gangguan konsentrasi

7). Jangan suka menunda-nunda pekerjaan, karena ini akan dapat menjadi kebiasaan yang terulang, apalagi kalau menghadapi pekerjaan yang berat

8). Kenalilah kondisi penyesuaian diri anda terhadap waktu. Ada waktu-waktu tertentu yang kurang cocok bagi fisik dan psikis kita untuk mengerjakan sesuatu tugas, dan ada pula waktu-waktu tertentu yang sangat cocok bagi kondisi fisik dan psikis kita untuk menyelesaikan sesuatu tugas. Dengan demikian gunakanlah waktu-waktu yang cocok bagi kondisi fisik dan psikis kita masing-masing untuk menyelesaikan setiap tugas

9). Bekerjalah didalam batas-batas kemampuan fisik dan psikis kita. Kita tidak usah memforsir diri untuk terus bekerja sehingga disamping merusah kondisi fisik dan psikis kita juga dapat mengurangi efdektifitas pekerjaan itu. Oileh karena itu selingan adalah penting untuk mengurangi ketegangan otak atau kelelahan. Selingan dapat berupa kegiatan-kegiatan istirahat, santai dan menghibur diri

10). Manfaatkanlah waktu-waktu senggang untuk kegiatan-kegiatan yang berguna bagi hidup kita, baik untuk belajar dan memperkaya pengalaman, maupun untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain yang mempercepat tercapainya tujuan-tujuan hidup kita.

11). Sedapat mungkin hindarilah kesalahan-kesalahan didalam melaksanakan tugas-tugas, karena kesalahan memerlukan perbaikan dan pengerjaan ulang dan dengan demikian membuang-buang waktu. Oleh karena itu bekerjalah secara cermat dan penuh ketelitian dengan berorientasi kepada tujuan yang hendak dicapai serta memperhatikan kondisi badan dan jiwa kita

12). Manfaatkanlah  jam makan kita lebih produktif. Dengan makan bersama, kita mendapatkan kesempatan yang berhgarga untuk menjalin hubungan kekeluargaan, bertukar fikiran serta merancang kegiatan-kegiatan yang berdaya guna bagi kepentingan bersama

Dengan membagi serta mendayagunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya, maka kita akan memperoleh kemajuan yang pesat didalam memenuhi kebutuhan hidup kita

Didalam buku : “PENDIDIKAN WIRASWASTA”

Judul Tulisan : ‘Pengertian Wiraswasta dan Ciri-ciri Manusia Wiraswasta’

Cetakan 2 : Mei 1989

Cetakan 3 : September 1992

Cetakan 4 : Desember 1993

Cetakan 5 : Desember 1996

Oleh : ‘Drs. Wasty Soemanto,M.Pd’.

Diterbitkan oleh : BUMI AKSARA

Jl. Sawo Raya No. 18 Jakarta 13220

belajar bisnis online dari internet

belajar bisnis online dari internet

Saya akan ajarkan kepada Anda berbagai cara untuk berbisnis dari internet dan mendapat uang dengan mudah dan melimpah melalui jalan-jalan yang halal, legal, elegan dan terhormat!
Kali ini saya akan membahas tentang berbagai keuntungan, keunggulan dan kendala dalam berbisnis online, berikut dengan solusinya. :D

Ya, kita mulai saja dengan berbagai keuntungan dan keunggulan dalam berbisnis online.
Ada banyak alasan mengapa bisnis online semakin berkembang. Hal ini karena banyak keunggulan dan keuntungan yang ada pada penerapan bisnis online itu sendiri.
Lalu, apa saja keuntungan/keunggulan bisnis online? Beberapa keuntungan tersebut antara lain :
1. Beroperasi 24 jam sehari.
2. Modal/biaya yang diperlukan murah bahkan boleh dibilang sangat murah (bukan berarti tidak memerlukan biaya sama sekali).
3. Tidak perlu banyak pekerja (karyawan) untuk mengelola dan menjalankannya, karena Anda sendiri dapat melakukannya.
4. Sifatnya otomatis dan mudah dalam pengoperasian.
5. Tidak terikat oleh tempat, waktu dan keadaan. Kapan, dimana dan dalam keadaan apapun Anda tetap bisa menjalankan bisnis Anda, sehingga tidak memerlukan tempat khusus.
6. Prospeknya cenderung meningkat, karena dengan mudah dapat diketahui dan diakses oleh orang lain yang berarti bisnis Anda akan sangat mudah tersebar luas.
7. Banyak jenis dan macamnya. Anda dapat memilih bisnis yang sesuai dengan keahlian, kemampuan atau kesenangan Anda.
8. Tidak harus secara khusus menentukan target/sasaran pemasaran bisnis Anda.
9. Dapat dijalankan oleh hampir semua orang, selama mereka memiliki waktu, tenaga dan usaha untuk melakukannya.
10. Pemasukan (income) yang diperoleh mungkin sangat tidak terduga (banyaknya).
11. Aman dari risiko-risiko fisik bisnis konvensional seperti kebakaran, penjarahan, perampokan dan lain-lain.
Lalu, apa masih ada kendala dalam berbisnis online?
Ya, tentu saja setiap bisnis pasti mempunyai berbagai kendala, tinggal bagaimana kita menemukan solusi untuk memecahkan kendala tersebut,
berikut ini berbagai kendala dan solusinya dalam berbisnis online :

1.
Kendala : Bisnis di Internet itu kebanyakan Penipuan, hal-hal yang dijual tidak ada wujudnya.
Solusi : Mungkin ada penipuan – penipuan bisnis di internet, tapi tidak semua bisnis
Online adalah penipuan sama halnya dalam bisnis konvesional, ada yang jujur ada juga penipuan. Jadi kita harus berani tapi tetap waspada dan hati-hati memilih bisnis Online.

2.
Kendala : Saya takut gagal, dan apa yang kita beli untuk belajar tidak menghasilkan Uang.
Solusi : Kalau takut gagal kapan mau mulainya. Bukankah kegagalan itu akan jadi
pembelajaran bagi kita. Hasil dalam belajar tidak langsung berupa Uang. Semangat, motivasi, pengalaman, keterampilan adalah hasil yang sangat berharga yang mungkin nantinya akan menghasilkan uang.

3.
Kendala : Saya tidak tahu mulai dari mana untuk berbisnis Online.
Solusi : Mulailah dari perubahan sikap. Pandangan positip terhadap bisnis ini adalah start
awal yang bagus sehingga kita bisa yakin akan keberhasilan bisnis ini. Nah untuk memulainya pelajari bisnis ini bisa dengan membaca buku, cari informasi di internet atau bahkan lewat panduan & konsultasi bisnis Online agar lebih terfokus.

4.
Kendala : Membuat situs Web itu pekerjaan yang susah dan hanya dilakukan oleh Ahli
komputer.
Solusi : Sekarang pembuatan Web sudah sangat gampang sekali kerena sudah banyak template/script yang mempermudah pembuatan website.

5.
Kendala : Saya tidak punya modal yang besar.
Solusi : Untuk berbisnis Online kita tidak harus membutuhkan modal yang besar. Bahkan modal terhubung ke internet aja sudah cukup. Website sudah bisa dibuat dengan gratis. Jika kita mau menjual barang berwujud bahkan kita tidak perlu memiliki stok, kita bisa bekerja sama dengan pihak supplier sebagai penyedia barang. Dengan begitu bisnis ini nyaris tanpa modal.

6.
Kendala : Di Internetkan sudah banyak saingannya, mungkin saya tidak akan berhasil.
Solusi : Internet itu lahan yang luas sekali bukan hanya di lokal saja tapi seluruh dunia. Jadi peluang sangat terbuka lebar. Bahkan pasar di internet makin bertambah seiring bertambahnya pengguna internet.

7.
Kendala : Saya tidak mahir bahasa Inggris.
Solusi : Jika kita tidak bisa bahasa Inggris coba cari pasar untuk lokal dulu saja, kan cukup besar juga, tapi jika memang mau ke pasar internasional kita bisa mencari jasa penterjemah. Sekarang banyak penyedia jasa-jasa penterjemah sambil sedikit-sedikit kita juga belajar bahasa inggris.

8.
Kendala : Saya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu.
Solusi : Bisnis ini tidak harus selalu dikerjakan setiap saat atau di tunggu seperti di toko/warung biasa. Kita bisa melakukan pekerjaan beberapa saat saja lalu tinggal tunggu hasilnya. Kita juga bisa melakukannya dimana saja asal terhubung ke internet. Bisnis Online bisa dijadikan bisnis sambilan sehingga kita bisa melakukan aktifitas kita seperti biasa.

9.
Kendala : Berat bagi saya untuk terhubung ke internet selama 24 jam.
Solusi : Kita tidak usah terhubung ke internet selama 24 jam. Kita bisa terhubung saat kita memerlukan saja, misalnya ngecek dan melakukan transaksi.

Demikian Berbagai Pembahasan Tentang Bisnis Online, kesimpulannya dalam melakukan bisnis online kita cukup memerlukan Keberanian, Semangat, dan Motivasi yang tinggi saja.

http://strategicariduit.blogspot.com/

Senin, 2009 Januari 12

ANAK MUDA DAN KEWIRAUSAHAAN

ANAK  MUDA  DAN  KEWIRAUSAHAAN

MUNCULNYA geng anak muda yang cenderung negatif, sebut saja Geng Motor di Bandung dan Geng Nero di Pati Jawa Tengah, mengundang keprihatinan. Betapa tidak, anak-anak muda yang masih duduk di bangku sekolah harus berhadapan dengan proses hukum. Beberapa orang dari mereka sudah divoinis bersalah karena melakukan pembunuhan.
Mengerikan! Itulah kata pertama yang terlintas dalam pikiran ketika membaca berita tentang kekejaman Geng Nero: kelompok pelajar putri yang brutal. “Sadis!” Komentar yang pantas dilontarkan setelah menyaksikan tayangan penyiksaan Geng Nero. Mengapa bisa terjadi seperti itu? “Brutal, kejam, dan ngawur lagi!” begitu tulis seorang warga dalam satu blog internet menyikapi kasus kekerasan yang dilakukan Geng Nero, di Pati Jawa Tengah.
Kekerasan di kalangan anak muda, nampaknya terjadi setiap saat. Setiap kurun waktu ada saja dinamika dan ragam ceritanya. Tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk meminimalisasi dampak negatif itu. John Lock dalam teori Tabularasa mengatakan, anak lahir ibarat meja lilin yang putih bersih. Tergantung pendidikannya yang membuat ia berwarna merah, putih atau hitam sekalipun. Dalam konsep Islam, disebut fitrah. Menurut Nabi Muhammad saw, “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (Islam dan suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Majusi, Yahudi atau Nasrani.”
Pendidikan idealnya  mampu mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahun atau intelektualitas), afektif (sikap mental spiritual) serta psikomotor (ketrampilan fisiknya). Dalam proses pendidikan tersebut, bukan hanya memberikan hadiah, tetapi juga sanksi atau hukuman bagi mereka yang melanggar.
Bila dirunut dari akar masalahnya, mungkin banyak sekali penyebab kenakalan anak-anak itu. Antara lain, kurang perhatian orangtua, pendidikan yang tidak mendidik, kelainan jiwa, arus informasi yang tidak karuan dan lain-lain. Ada mekanisme atau mata rantai yang salah dalam pendidikan, baik formal di sekolah, keluarga atau masyarakat. Ketiga pilar utama pendidikan itu saling kait dan mempunyai kontribusi dalam perkembangkan kehidupan seorang anak.
Antara orangtua, guru, dan masyarakat harus saling mengisi dan melengkapi. Jika dihitung secara matematis, waktu anak lebih banyak di luar sekolah. Artinya, orangtua dan masyarakat yang harus mengambil peran lebih banyak. Kendati begitu, bukan berarti pihak sekolah harus lepas tangan. Dari bangku sekolah itulah perkembangan jiwa seorang anak bisa dibentuk dan diarahkan.
Dalam UU No.23/2006 tentang Pendidikan Nasional disebutkan, pendidikan selain dilaksanakan di sekolah, dilakukan juga dalam lingkungan keluarga serta masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah me­lainkan juga tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan warga belajar itu sendiri. Selanjutnya, pendidikan masyarakat diarahkan agar setiap anggota masya­rakat sedini mungkin dan sepanjang hidupnya mendapat kesem­patan menuntut ilmu yang berguna dan mengarah kepada la­pangan mata pencaharian hidup dalam bentuk usaha bersama, dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar, bekerja, dan berusaha.

Pendidikan Kewirausahaan
Anak muda cenderung ingin bebas untuk mengekspresikan jiwanya. Setiap anak mempunyai bakat dan kemampuan masing-masing. Tugas pendidikan untuk bisa mengembangkannya secara optimal. Kreativitas mereka jangan sampai dikekang, karena berdampak negatif. Sebaliknya, mereka harus tetap terkontrol sehingga mereka masih berada di koridor hukum yang  benar. Di sinilah perlunya peran orangtua dan guru di sekolah untuk tetap memantau perkembangan anak-anak mudanya. Jangan sampai lepas kendali sehingga berkembang negatif.
Potensi generasi muda yang luar biasa itu harus diarahkan ke hal-hal yang positif. Sektor apa yang mau dikembangkan, sesuai kondisi di lapangan. Pakar motivasi Janses Sinamo mengatakan, generasi muda harus diberi ruang dan kesempatan untuk mengembangkann potensi dirinya. Potensi yang ada harus diarahkan menjadi kekuatan yang positif. Dengan begitu, tidak lagi menjadi masalah. Sebaliknya bisa menjadi bagian dan penyelesaian masalah.
Pada tingkat global, Winarno Surakhmad (2007), generasi muda menghadapi situasi yang lebih muskil. Dalam alih generasi kali ini, generasi muda akan langsung dihadang arus kesejagatan dengan peraturan permainan yang sampai sekarang belum lagi terjamah sektor pendidikan. Sampai hari ini, pendidikan masih terlalu terikat oleh belenggu masa lalu, sehingga kemampuan untuk mengantar remaja dan generasi muda ke masa depan, tidak tampak. Ketiadaan persiapan yang adekuat menyebabkan generasi muda kekurangan kemampuan untuk bersaing di dunia luas yang hiperkompetitif. Menghadapi tantangan masa depan, para pendidik sendiri pun sudah kehilangan pegangan. Apabila mereka sendiri, di dalam menghadapi arus globalisasi, sekarang saja sudah terasing, sejauh mana kita masih bisa berharap, mereka dapat turut membangun masa depan?
Alih generasi melibatkan dua generasi dan tidak satu di antaranya yang dapat mengklaim sebagai kekuatan penentu. Generasi tua tidak dapat terus berjalan sendiri, mereka akan berlalu. Generasi muda juga tidak dapat berjalan sendiri, mereka membutuhkan masa lampau dan sekarang, untuk membangun masa depan. Karena itu, konflik generasi selalu berakibat fatal terhadap kehidupan bangsa.
Pengalaman di negara maju, pendidikan generasi muda diarahkan ke sikap mental kemandirian dan kewirausahaan. Pada saatnya mereka lulus sekolah, bukan lagi mencari kerja, tetapi bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu, mereka juga lebih mandiri dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Antonius Tanan (2007) mengatakan, pendidikan entrepreneurship bukan sekadar sebuah tren, tetapi ini adalah sebuah kebutuhan dan keharusan bagi masyarakat yang ingin maju. Tidak heran bila program pendidikan entrepreneurship sudah marak dipromosikan dan dilakukan di negara-negara maju. Apa yang telah terjadi di luar negeri dapat menjadi contoh untuk kita semua.
Pendididikan entrepreneurship untuk pelajar sebuah LSM di Amerika Serikat, NFTE (Network for Teaching Entrepreneurship), sejak 1987 menolong masyarakat kelompok usia muda dari golongan ekonomi lemah dengan cara membangkitkan kreativitas entrepreneurship dalam diri mereka. Sampai dengan saat ini mereka melatih lebih dari 120.000 generasi muda dan memberikan lebih dari 3.700 sertifikat pengajar entrepreneurship.l

http://suara-muhammadiyah.com/?p=609

Posted on October 16th, 2008 in 20 Kapita Selekta by redaksi

Iskandar Helmi

Ilmu dan Keterampilan Bisnis

Ilmu dan Keterampilan Bisnis

ADA banyak alasan mengapa kita memulai bisnis. Namun ada tiga alasan utama yang membuat kita mau memulai bisnis. Tiga alasan itu adalah Financial Freedom, Passive Income, dan More Time.

Financial Freedom, kita memulai bisnis karena keinginan kita untuk terbebas dari masalah keuangan  dan  keterbatasan kemampuan keuangan. Kita ingin mampu memiliki segala sesuatu sesuai dengan keinginan, misalnya ingin membeli rumah bagus, kendaraan, atau baju bagus tanpa harus menunggu saat ada diskon. Atau  ingin makan di restaurant favorit bersama keluarga dan bebas memilih makanan kesukaan tanpa harus melihat besaran angka yang ada di sebelah kanan menu yang kita inginkan.

Passive Income, dengan memilili bisnis kita membayangkan akan memiliki penghasilan tanpa harus selalu bekerja untuk mendapatkannya. Kita ingin bisnis yang kita miliki mengirimkan uang secara terus menerus. Ingin memiliki pendapatan yang terus mengalir selagi kita berlibur, selagi kita bepergian, bahkan kalau perlu selagi kita tidur.

More Time, hampir sebagian besar orang yang memulai bisnis membayangkan akan memiliki waktu yang lebih fleksibel. Tidak seperti ketika masih menjadi pekerja yang sangat terikat dengan aturan dan disiplin, harus masuk sesuai jam kerja lima hari dalam seminggu, bahkan kadang – kadang harus masuk di hari libur. Dengan memiliki bisnis sendiri kita berharap bisa berlibur kapan saja, mengantar dan menjemput anak ke sekolah, pulang kampung (buat saya sesuatu yang istimewa), atau mau melakukan apapun kapan saja tanpa harus izin sakit, izin ke ini, izin ke itu yang tidak menyenangkan sama sekali.

Setelah kita memulai berbisnis, hampir semua entrepreneurs yang saya jumpai dan termasuk saya tentunya pada awal – awal saya berbisnis, bukannya mendapatkan tiga hal di atas malah justru semakin jauh dari yang kita harapkan. Bukan Financial Freedom yang kita dapatkan malah semakin hari semakin banyak utang yang kita gali, bisnis seolah-olah tak pernah henti-hentinya  membutuhkan tambahan modal.

Bulan lalu kita menyuntik dana, bulan ini tak terhindarkan lagi kita harus mencari utang kesana kemari untuk menutupi cash flow, kalau tidak kita tutupi maka karyawan tidak gajian, maka supplier tidak akan mengirimkan lagi barangnya kepada kita, dan begitulah terus tanpa ada hentinya sehingga hutang semakin dalam.

Passive Income? Kita sudah lupa lagi bahwa kita pernah membayangkan memiliki passive income dari bisnis, karena setiap hari kita selalu disibukkan dengan berbagai persoalan. Bulan lalu penjualan merosot sehingga bulan ini kita harus fokus untuk membenahi penjualan. Ketika penjualan mulai kita tangani dan membaik muncul masalah piutang yang membengkak sehingga cash flow kita terganggu. Besok, inventory kita yang terlalu tinggi dan macet di gudang, dan lagi- lagi cash flow selalu menjadi masalah.

Kita jadi frustasi karena tim kita sangat tergantung dengan kita, tidak bisa memutuskan sendiri, tidak ada inisiatif, harus selalu kita kejar-kejar, bahkan banyak perintah-perintah kita yang tidak berjalan atau tidak dijalankan. Bukannya passive income yang kita dapat tetapi very very very active income yang ada.

Setelah berbisnis, bukan More Time atau waktu berlebih yang kita dapatkan, kita bahkan sudah tidak bisa lagi pulang sore seperti ketika kita menjadi pegawai dulu. Sabtu dan minggu kadang kadang harus mengurusi bisnis, waktu untuk keluarga terganggu, libur menjadi barang mahal bagi kita. Ketika menjadi pegawai, kita senang kalau ada tanggal merah. Namun, setelah jadi entreprenuer justru sebaliknya, sebal kalau ada tanggal merah, karena yang lain libur kita tetap memikirkan pekerjaan sendirian.

Banyak entrepreneur yang kehilangan orientasi dalam berbisnis karena semakin peliknya situasi, semakin dalamnya permasalahan dan semakin kompleksnya proses bisnis yang dihadapi seiring dengan bertumbuhnya bisnis yang dimiliki. Umumnya entrepreneur memulai bisnis dengan bekal semangat dan mimpi besar, dan terus demikian semakin lama bisnisnya bertumbuh tanpa mengimbangi dirinya dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan dalam berbisnis secara memadai.

Kalau kita lihat berbagai profesi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, menjadi dokter, pengacara, dosen, guru, bahkan tukang kayu, tukang las, ataupun pengemudi, semuanya memerlukan bekal pengetahuan dan keterampilan. Pengemudi perlu pengetahuan tentang jalan-jalan, pengetahuan tentang kendaraan yang dibawanya, dan juga perlu keterampilan dalam mengemudi, menghadapi kemacetan, melewati jalan menanjak, dan memberhentikan kendaraannya dengan aman.

Demikian juga dengan entrepreneur, kita tidak dapat membangun bisnis sesuai dengan keinginan kita tanpa pengetahuan dan keterampilan, membangun bisnis yang menjadi mesin pencetak uang bagi kita, bisnis yang jalan tanpa setiap saat mengharuskan kehadiran kita, dan bisnis yang bisa mengantarkan kita meraih impian-impian kita.

Pengetahuan dan Keterampilan, itulah kuncinya. Menjadi entrepreneurs dituntut untuk selalu menuntut ilmu dan belajar, tidak hanya belajar dari pengalaman kita sendiri tetapi juga harus belajar dari pengalaman orang lain, dengan membaca buku, majalah, atau mencari mentor dari entrepreneur yang sudah berhasil membangun bisnis.  Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki sebagai entreprenuer kita akan terhindar dari berbagai persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. *)

Sikap optimistik

Sikap optimistik

Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Tuhan. Sikap demikian hanya patut bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (Q.S. 12:87). Orang mukmin berkeharusan untuk memiliki sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya tentang masa depan dirinya di akhirat kelak. Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut ‘raja’ (sikap penuh harap).

‘Raja’, menurut Abu al-Qasim al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).

Sikap optimisme, seperti dikemukakan di atas, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Tuhan. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang.

Untuk itu, optimisme yang disebut raja’ bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab al-Hikam Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari mengemukakan, ‘raja’ adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja’, tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawur lainnya. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. ”Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,” jelasnya.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan beramal saleh. ”Orang yang kuat lagi cerdas,” sabda Nabi, ”adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Tuhan.”

Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah ini: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya (Q.S. 18:110).

Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar’iy yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual.  – ah

http://ng.republika.co.id/berita/26575/Sikap_optimistik

Berpikir Positif

Berpikir Positif

Sebagai tenaga pemasar–marketer di perusahaan farmasi waktu itu, berpikir positif merupakan kekuatan guna keberhasilan di dalam penjualan dan karir. Ketika saya masih menjadi Area Manager untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara, yang membawahi beberapa tenaga pemasar di principal, dan berkoordinasi dengan distributor nasional PT. Kimia Farma Trading & Distribution, PT. Anugerah Pharmindo Lestari, dan PT.. Milenium Pharmacon Internasional. Dimana setiap hari, kami harus berkoordinasi dengan salesman distributor guna peningkatan penjualan produk-produk yang kami bawa; maka sikap mental yang kuat untuk berpikir positif guna pencapaian kinerja penjualan yang tinggi harus kami kedepankan.

Tanpa sikap mental positif, sulit bagi kami untuk mencapai penjualan yang tinggi setiap bulannya, dan sukses dalam karir. Sikap mental yang positif ini, kami bangun dari aktifitas setiap harinya, mulai dari jam masuk kerja, dengan mengadakan session morning, yaitu pertemuan pagi hari guna menyemangati tim kami untuk bekerja dengan semangat melalui sharing tips-tips motivasi dan yel-yel wajib. Di sore harinya pun, pasca kunjungan niaga (sales call) pertemuan kami lakukan untuk mengevaluasi kerja harian kunjungan kami ke setiap outlet yang telah direncanakan, pagi harinya.

Sikap mental berpikir positif ini kami bangun dari rasa percaya diri terhadap diri, produk yang ditawarkan, dan perusahaan tempat bekerja. Pertama, rasa percaya diri dibangun dari 1) selalu berpenampilan rapi pada setiap kunjungan niaga–pastikan baju, celana, sepatu anda yang anda pakai dalam keadaan rapi; 2) bersahabat dan ramah pada setiap key person outlet yang kami kunjungi; 3) berpikir positif bahwa anda mampu untuk berhasil, pikirkan keberhasilan, maka anda akan berhasil–you are what you think you are? Jangan pernah terbersit dan terucap bahwa “ini tidak mungkin!” “saya tidak mampu!” “saya akan gagal!” karena anda sendiri yang akan menformat keberhasilan dan kegagalan anda tersebut.

Kedua, yakin akan keunggulan produk yang dijual; untuk itu, informasi produk harus dikuasai oleh seorang tenaga penjual, informasi ini mencakup ciri khusus (feature) dan manfaat yang timbul dari feature tersebut (product benefit). Feature dan benefit produk ini yang akan ditawarkan ke konsumen anda. Seperti feature sebuah kapsul obat bebas prostat yang terbuat dari bahan alami dengan kapsul yang juga terbuat dari bahan alami (Vcaps), berarti benefit bagi pengguna adalah aman dikonsumsi, relatif tanpa efek samping, dan baik dikonsumsi bagi mereka yang vegetarian. Nah, keyakinan dan sikap positif atas keunggulan produk ini harus diyakini dahulu oleh tenega penjual, dan baru kemudian ditawarkan ke pada konsumennya.

Ketiga, rasa positif ini juga harus diyakini terhadap perusahaan tempat wiraniaga bekerja; yaitu yakin bahwa perusahaan akan memberikan imbalan yang pantas berupa incentive, jenjang karir, pelatihan, atau promosi.

Banyak contoh mereka, yang berkarir sebagai seorang tenaga pemasar/wiraniaga di perusahaan manufacturing dan distribusi, yang melandasi kepada ketiga hal positif di atas, hingga saat ini, mereka berhasil dalam karir penjualan. Oleh karenanya, seorang salesman atau wiraniaga harus percaya diri, bergairah, dan bersemanggat dalam menekuni dan menjalankan pekerjaannya; kesuksesan berawal dari sikap positif anda!!!

Salam Sukses……….!

Oleh : Antoni Ludfi Arifin

Sunday, November 23, 2008

posted by Dodi – Ryan @ 9:56:00 AM 0 comments

http://beranigagal.blogspot.com/

Ide VS Action

Ide VS Action

Ide!!! Ide adalah buah hasil dari pemikiran kita untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Ide ini sangat mahal sekali harganya. Banyak orang yang menjadi kaya karena idenya. Bill Gates kaya karena idenya untuk menciptakan operating system yang kini dikenal dengan namaWindows, Jeff Bezos kaya karena idenya untuk menciptakan toko online yang dikenal dengan nama amazon.com, colonel Sanders kaya dengan idenya dalam racikan bumbu ayam, dan masih banyak lagi orang-orang dengan ide brilian yang dengan idenya mereka menjadi kaya luar biasa. Bahkan ada yang mengatakan “hanyadiperlukan satu ide untuk bisa hidup seperti raja dan ratu sepanjang akhir hidup kita”.

Sedangkan action adalah suatu usaha yang dilakukan, action juga bisa dikatakan sebagai suatu kerja, semakin keras kita bekerja atau berusaha maka semakin dekat kita dengan kesuksesan kita, tidak ada orang yang sukses tanpa bekerja keras, salah satu contoh orang yang sukses dengan bekerja keras adalah Tukul Arwana, seperti yang diketahui oleh bayak orang bahwa Tukul meniti karirnya dimulai dari bawah sekali, mulai dari jadi pembantu, sopir, pemeran video klip Joshua dan lain-lain, berkat kerja kerasnyalah dia bisa sukses seperti sekarang ini. Dan masih banyak lagi orang-orang yang sukses karena mereka bekerja sangat keras.

Lalu sekarang menurut anda manakah yang lebih penting??? Ide ataukah Action??? Dalam hal ini mungkin diantara kita banyak sekali terjadi perbedaan pendapat. Kalau anda lebih memilih action, coba pikirkan bagaimana dengan kehidupan para pedagang kaki lima (pedagang kecil) yang harus bangun pada dini hari untuk menyiapkan barang dagangannya lalu terus bekerja sampai malam, tetapi pendapatan mereka hanya pas-pasan. Kalau Anda memilih ide, mungkin diantara teman anda ada seorang teman yang sering mempunyai ide yang bagus, tapi sangat jarang atau bahkan tidak pernah untuk merealisasikan idenya. Sekarang bagaimana menurut anda???.

Sebenarnya jika kita ingin sukses kita harus memiliki keduanya baik action maupun ide, jika anda mempunyai ide yang menurut anda bagus dan dapat membuat anda meraih kesuksesan serta meraih impian anda maka langsung take action jangan menunda-nunda lagi!

Akhir kata jadilah orang yang selalu bekerja keras (action) dan bekerja cerdas (ide). Lalu raihlah impian.

Salam Sukses !!!

http://kardi-motivasi.co.cc

Monday, November 24, 2008

beranigagal.blogspot.com