ANAK MUDA DAN KEWIRAUSAHAAN

ANAK  MUDA  DAN  KEWIRAUSAHAAN

MUNCULNYA geng anak muda yang cenderung negatif, sebut saja Geng Motor di Bandung dan Geng Nero di Pati Jawa Tengah, mengundang keprihatinan. Betapa tidak, anak-anak muda yang masih duduk di bangku sekolah harus berhadapan dengan proses hukum. Beberapa orang dari mereka sudah divoinis bersalah karena melakukan pembunuhan.
Mengerikan! Itulah kata pertama yang terlintas dalam pikiran ketika membaca berita tentang kekejaman Geng Nero: kelompok pelajar putri yang brutal. “Sadis!” Komentar yang pantas dilontarkan setelah menyaksikan tayangan penyiksaan Geng Nero. Mengapa bisa terjadi seperti itu? “Brutal, kejam, dan ngawur lagi!” begitu tulis seorang warga dalam satu blog internet menyikapi kasus kekerasan yang dilakukan Geng Nero, di Pati Jawa Tengah.
Kekerasan di kalangan anak muda, nampaknya terjadi setiap saat. Setiap kurun waktu ada saja dinamika dan ragam ceritanya. Tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk meminimalisasi dampak negatif itu. John Lock dalam teori Tabularasa mengatakan, anak lahir ibarat meja lilin yang putih bersih. Tergantung pendidikannya yang membuat ia berwarna merah, putih atau hitam sekalipun. Dalam konsep Islam, disebut fitrah. Menurut Nabi Muhammad saw, “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (Islam dan suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Majusi, Yahudi atau Nasrani.”
Pendidikan idealnya  mampu mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahun atau intelektualitas), afektif (sikap mental spiritual) serta psikomotor (ketrampilan fisiknya). Dalam proses pendidikan tersebut, bukan hanya memberikan hadiah, tetapi juga sanksi atau hukuman bagi mereka yang melanggar.
Bila dirunut dari akar masalahnya, mungkin banyak sekali penyebab kenakalan anak-anak itu. Antara lain, kurang perhatian orangtua, pendidikan yang tidak mendidik, kelainan jiwa, arus informasi yang tidak karuan dan lain-lain. Ada mekanisme atau mata rantai yang salah dalam pendidikan, baik formal di sekolah, keluarga atau masyarakat. Ketiga pilar utama pendidikan itu saling kait dan mempunyai kontribusi dalam perkembangkan kehidupan seorang anak.
Antara orangtua, guru, dan masyarakat harus saling mengisi dan melengkapi. Jika dihitung secara matematis, waktu anak lebih banyak di luar sekolah. Artinya, orangtua dan masyarakat yang harus mengambil peran lebih banyak. Kendati begitu, bukan berarti pihak sekolah harus lepas tangan. Dari bangku sekolah itulah perkembangan jiwa seorang anak bisa dibentuk dan diarahkan.
Dalam UU No.23/2006 tentang Pendidikan Nasional disebutkan, pendidikan selain dilaksanakan di sekolah, dilakukan juga dalam lingkungan keluarga serta masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah me­lainkan juga tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan warga belajar itu sendiri. Selanjutnya, pendidikan masyarakat diarahkan agar setiap anggota masya­rakat sedini mungkin dan sepanjang hidupnya mendapat kesem­patan menuntut ilmu yang berguna dan mengarah kepada la­pangan mata pencaharian hidup dalam bentuk usaha bersama, dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar, bekerja, dan berusaha.

Pendidikan Kewirausahaan
Anak muda cenderung ingin bebas untuk mengekspresikan jiwanya. Setiap anak mempunyai bakat dan kemampuan masing-masing. Tugas pendidikan untuk bisa mengembangkannya secara optimal. Kreativitas mereka jangan sampai dikekang, karena berdampak negatif. Sebaliknya, mereka harus tetap terkontrol sehingga mereka masih berada di koridor hukum yang  benar. Di sinilah perlunya peran orangtua dan guru di sekolah untuk tetap memantau perkembangan anak-anak mudanya. Jangan sampai lepas kendali sehingga berkembang negatif.
Potensi generasi muda yang luar biasa itu harus diarahkan ke hal-hal yang positif. Sektor apa yang mau dikembangkan, sesuai kondisi di lapangan. Pakar motivasi Janses Sinamo mengatakan, generasi muda harus diberi ruang dan kesempatan untuk mengembangkann potensi dirinya. Potensi yang ada harus diarahkan menjadi kekuatan yang positif. Dengan begitu, tidak lagi menjadi masalah. Sebaliknya bisa menjadi bagian dan penyelesaian masalah.
Pada tingkat global, Winarno Surakhmad (2007), generasi muda menghadapi situasi yang lebih muskil. Dalam alih generasi kali ini, generasi muda akan langsung dihadang arus kesejagatan dengan peraturan permainan yang sampai sekarang belum lagi terjamah sektor pendidikan. Sampai hari ini, pendidikan masih terlalu terikat oleh belenggu masa lalu, sehingga kemampuan untuk mengantar remaja dan generasi muda ke masa depan, tidak tampak. Ketiadaan persiapan yang adekuat menyebabkan generasi muda kekurangan kemampuan untuk bersaing di dunia luas yang hiperkompetitif. Menghadapi tantangan masa depan, para pendidik sendiri pun sudah kehilangan pegangan. Apabila mereka sendiri, di dalam menghadapi arus globalisasi, sekarang saja sudah terasing, sejauh mana kita masih bisa berharap, mereka dapat turut membangun masa depan?
Alih generasi melibatkan dua generasi dan tidak satu di antaranya yang dapat mengklaim sebagai kekuatan penentu. Generasi tua tidak dapat terus berjalan sendiri, mereka akan berlalu. Generasi muda juga tidak dapat berjalan sendiri, mereka membutuhkan masa lampau dan sekarang, untuk membangun masa depan. Karena itu, konflik generasi selalu berakibat fatal terhadap kehidupan bangsa.
Pengalaman di negara maju, pendidikan generasi muda diarahkan ke sikap mental kemandirian dan kewirausahaan. Pada saatnya mereka lulus sekolah, bukan lagi mencari kerja, tetapi bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu, mereka juga lebih mandiri dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Antonius Tanan (2007) mengatakan, pendidikan entrepreneurship bukan sekadar sebuah tren, tetapi ini adalah sebuah kebutuhan dan keharusan bagi masyarakat yang ingin maju. Tidak heran bila program pendidikan entrepreneurship sudah marak dipromosikan dan dilakukan di negara-negara maju. Apa yang telah terjadi di luar negeri dapat menjadi contoh untuk kita semua.
Pendididikan entrepreneurship untuk pelajar sebuah LSM di Amerika Serikat, NFTE (Network for Teaching Entrepreneurship), sejak 1987 menolong masyarakat kelompok usia muda dari golongan ekonomi lemah dengan cara membangkitkan kreativitas entrepreneurship dalam diri mereka. Sampai dengan saat ini mereka melatih lebih dari 120.000 generasi muda dan memberikan lebih dari 3.700 sertifikat pengajar entrepreneurship.l

http://suara-muhammadiyah.com/?p=609

Posted on October 16th, 2008 in 20 Kapita Selekta by redaksi

Iskandar Helmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s