Kewiraswastaan atau Entrepreneur

Kewiraswastaan atau Entrepreneur

Oleh : Mohammad Sholeh, SE

Secara etimologis, wiraswasta merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata ‘wira’ dan ‘swasta’. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari dua kata : ‘swa’ dan ‘sta’. Swa artinya sendiri, sedangkan Sta berarti berdiri. Swasta dapat diartikan sebagai berdiri menurut kekuatan sendiri.

Wiraswasta ialah keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri.

Dengan demikian pengertian wiraswasta bukan hanya sekedar usaha partikelir atau kerja sambilan di luar dinas negara, melainkan sifat-sifat keberanian, keutamaan, keuletan dan ketabahan seseorang dalam usaha memamjukan prestasi kekaryaan, baik dibidang tugas kenegaraan maupun partikelir dengan menggunakan kekuatan diri sendiri.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta orang yang memiliki :

  1. potensi untuk berprestasi
  2. memiliki motivasi yang besar
  3. maju berprestasi
  4. mampu menolong dirinya sendiri
  5. mampu mengatasi permasalahan hidup
  6. mampu memenuhi kebutuhan hidup
  7. mampu mengatasi kemiskinan
  8. tidak menunggu bantuan/pertolongan
  9. tidak suka bergantung kepada pihak lain
  10. tidak suka menunggu uluran tangan
  11. tidak suka tergantung kepada alam
  12. tidak mudah menyerah kepada alam
  13. berusaha untuk menundukkan alam

Untuk mencapai atau memiliki kualitas manusia wiraswasta, seseorang harus memiliki kekuatan sebagai modal. Sedang untuk memiliki modal kekuatan ini orang harus belajar, sehingga padany terdapat sumber daya manusia.

Orang yang mampu mengenal diri akan menyadari, bahwa di dalam dirinya terdapat kelemahan ataupun kekuatan pribadi. Pribadi yang lemah dilandasi oleh jiwa yang pesimis, statis, tergantung dan masa bodoh, sedangkan pribadi yang kuat dilandasi oleh jiwa yang optimis, dinamis dan kreatif.

Bagaimanakah cirri-ciri pribadi yang kuat ? kita hendaknya tidak membiarkan diri untuk dikuasai oleh jiwa yang kerdil (penuh dengan pesimistis, statis, ketergantungan, dan kebodohan). Bilamana orang membiarkan dirinya terkuasai oleh jiwa kerdilnya, maka ia akan memperoleh kehidupan yang kerdil pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s