Ada yang Salah Jika Etos Kerja Malah Menurun Selama Ramadhan

Ada yang Salah Jika Etos Kerja Malah Menurun Selama Ramadhan

Pada kebanyakan orang, Bulan puasa Ramadhan dijadikan bulan untuk lemas, mengantuk dan tidak bergairah. Selain itu, bagi orang yang bekerja, terkadang ritual ibadah puasa menghalangi mereka untuk lebih meningkatkan gairah dan etos kerja.

Padahal sebaliknya, kata mubaligh ibu kota Ustadz Muchsinin Fauzi Lc, bulan Ramadhan justru sebagai momen yang sangat tepat untuk meningkatkan vitalitas dan etos kerja.

Muchsinin menjelaskan, betapa istimewanya bulan suci ini. Di dalam bulan Ramadhan, ada dua hal besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah Islam. Pertama, menangnya umat Muslim dalam perang Badar. Kedua, peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). “Hal-hal penting terjadi di bulan Ramadhan. Mereka mampu melakukan hal besar dalam kondisi berpuasa. Kita pun harusnya demikian. Jadikan Ramadhan sebagai big performance umat Islam,” ujarnya, Kamis (19/8) dalam tausiyah dalam acara buka bersama awak Newsroom Republika dan Republika Online di Jakarta.

Big performance, menurut Muchsinin, adalah perwujudan  umat Islam dalam bulan Ramadhan yang tercermin dengan semangat baru dan siap meningkatkan kualitas kerja. Karena, seperti tadi yang telah diurai, dalam bulan Ramadhan telah terjadi serangkaian peristiwa berat dan besar, namun dapat dicapai. “Jadikan peristiwa itu sebagai tonggak untuk memotivasi diri,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang cenderung menurun kualitasnya pada bulan Ramadhan. Pertama, orang tersebut belum siap menghadapi Ramadhan. “Karena belum siap, ia pun tak terbiasa lapar, haus dan lain sebagainya,” ujarnya. Kedua, visi seseorang tersebut tidak sesuai dengan Ramadhan. Oleh karenanya Ramadhanya lemah. “Ramadhan itu jalan menuju utara. Menuju Allah. Jika visinya berbeda, maka akan sulit jalani Ramadhan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Muchsinin, sepanjang hayatnya, manusia itu dibekali hawa nafsu itulah mengapa Allah perintahkan untuk berpuasa. “Agar nafsunya jinak,” katanya. Orang yang bekerja pun demikian. Mereka dibekali hawa nafsu lengkap dengan pengujian kesabaran dan ketabahan. Mereka diuji apakah Ramadhan kualitas kerja mereka menurun padahal bulan selain Ramadhan etos kerja mereka baik.

Muchsinin pun menyarankan, setiap pekerjaan yang kita lakukan itu harus diniatkan karena Allah Swt dan diniatkan sebagai bentuk penghambaan diri padaNya. Tak peduli dengan gaji yang didapat dengan jam kerja yang panjang. Intinya, keprofesionalan terwujud karena kita bertanggung jawab kepada Allah. Bukan karena jabatan, apalagi materi yang didapat. Oleh sebabnya, muslim yang tangguh tak menjadikan gaji sebagai motivasinya. “Gaji bukan motivasi tapi kontrak kerja. Muslim yang ingin memiliki etos kerja yang bagus, motivasinya juga harus benar,” tegasnya.

Lebih lanjut, ustadz lulusan Universitas Madinah ini juga memaparkan perihal sedekah. Orang yang paling bahagia ialah orang yang bekerja karena Allah, lalu bersifat dermawan. Sedekah yang sempurna baginya ialah sedekah orang yang senantiasa memberi baik dalam keadaan lapang dan sempit. Nabi Muhammad Saw pun demikian, saat bulan Ramadhan, tak pernah berhenti untuk memberi. “Sedekah Nabi seperti angin berhembus. Tidak pernah berhenti. Baik lapang maupun sempit. Itulah orang yang paling bahagia,” katanya.

Red: Siwi Tri Puji B
Rep: ina

 

Berita terkait

http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/berita-ramadhan/10/08/20/131019-ada-yang-salah-jika-etos-kerja-malah-menurun-selama-ramadhan

» Ramadhan » Berita Ramadhan

Jumat, 20 Agustus 2010, 10:07 WIB

Republika

 

Ustadz Muchsinin Fauzi Lc tengah berceramah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-

UBS

https://mohammadsholeh.wordpress.com/

LANDASAN , PRINSIP DAN PROGRAM

UNIT BISNIS SEKOLAH (UBS)

SMKN 1 SUKORAMBI JEMBER

 

  1. I.                  Landasan Kerja UBS
    1. 1.     Kejujuran
    2. 2.     Keterbukaan
    3. 3.     Kepercayaan

 

  1. II.               Prinsip Manajemen yang ingin dikembangkan UBS
    1. 1.     Commitment
    2. 2.     Competency
    3. 3.     Consistency

 

  1. III.            Sasaran akan dapat dicapai, bila
    1. 1.     Ada konsep
    2. 2.     Ada fasilitas
    3. 3.     Ada dana
    4. 4.     Ada target

 

  1. IV.            Tiga Dimensi Konsep Pemasaran
    1. 1.     Seluruh perencanaan dan kegiatan UBS berorientasi pasar
    2. 2.     Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan ( volume bukan untuk volume )
    3. 3.     Seluruh kegiatan pemasaran harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasional

 

 

  1. V.                Pengaturan Keuangan UBS
    1. 1.     30 % modal kerja
    2. 2.     25 % investasi
    3. 3.     25 % dana tabungan
    4. 4.     20 % dana administrasi, keperluan sekolah, kesejahteraan dll

 

  1. VI.            Program UBS
    1. 1.     Penataan dan Penertiban Administrasi serta Pembukuan
    2. 2.     Koordinasi secara rutin dan berkala dengan jurusan serta warga sekolah
    3. 3.     Konsulidasi Pengembangan UBS dengan mitra bisnis dari luar
    4. 4.     Peningkatan Kinerja UBS
    5. 5.     Pengembangan dan Peningkatan Pemasaran
    6. 6.     Menghidupkan dan Mengembangkan UBS yang macet untuk bergerak kembali
    7. 7.     Pembuatan Laporan bulanan, triwulan dan tahunan UBS kepada seluruh warga sekolah
    8. 8.     Deversifikasi usaha UBS
    9. 9.     Peningkatan Use Factor sarana, peralatan dan fasilitas yang dimiliki sekolah

  

  1. VII.         Struktur UBS

Kita Harus Berubah

Kita Harus Berubah

Semua yang ada di sekitar kita berubah! Semua apa yang bisa ditangkap oleh panca indera kita berubah! Dan bila anda coba renungi, semakin ke sini, perubahan itu semakin cepat! Coba anda tengok sejarah, era seribu tahun lalu, orang hanya mengenal siapa saja yang hanya ada di sekitar kehidupannya secara fisik. Beberapa orang mungkin bisa mengenal orang-orang, jauh dari tempat dia dilahirkan, tapi itupun harus dilalui dengan keberanian untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, kebanyakan perjalanan darat, kalaupun ada perjalanan laut hanya terbatas pada jarak pendek antar pulau, karena perahu yang bisa tercipta hanya perahu ukuran kecil. Seperti sejarah mengenal Marco Polo, pelaut Viking, Columbus.

Kita tengok di era seratusan tahun lalu. Revolusi Industri di Eropa, merubah budaya. Kapal-kapal besar tercipta, jalan darat pun bisa dilakukan lebih cepat dengan kendaraan bermesin. Membuat semakin banyak orang pergi dari tempatnya tinggal. Semakin banyak orang pergi lebih jauh lagi. Semakin banyak orang bisa mengenal orang lain yang bukan dari tempat kelahirannya, lebih banyak lagi. Apa yang ‘ditangkap’ panca indera sebagian besar orang pun semakin banyak dan beragam. Orang di negara tropis pun mengenal salju, sebaliknya orang-orang yang hidup di musim dingin, banyak yang mulai bisa merasakan hangatnya matahari tropis.

Dan sampailah di era sepuluh tahun lalu. Perubahan itu begitu luar biasa! Ada telepon, ada faximile, telah tercipta radio, televisi, alat komukasi nirkabel, ada angkutan udara yang menghubungkan dua belahan dunia hanya dalam semalam. Dan semakin banyak manusia bertemu dengan manusia lain. Pertemuan yang saya maksud tentunya tidak melulu sebuah keharusan pertemuan fisik. Dengan telepon kita bisa bicara dengan orang lain entah dimana tanpa pernah tahu penampilannya. Dengan televisi kita bisa melihat, menilai dan merasa dekat dengan orang dari belahan dunia lain tanpa perlu mengenalnya. Membuat panca indra ini memiliki pengalaman lebih banyak dari era sebelumnya. Semakin banyak melihat hal-hal yang tidak pernah dilihat jaman sebelumnya. Semakin banyak mendengar logat bicara negara lain lebih banyak lagi. Merasakan makanan lebih beragam.

Dan hari ini, segalanya semakin berubah cepat. Teknologi cellular, internet, broadband, GPRS, membuat seolah semua hal menjadi mungkin. Tak henti-hentinya setiap hari saya terkagum-kagum, misalnya dengan jejaring sosial semacam facebook, saya bisa ‘berburu’ teman-teman sekolah dulu, kembali berakrab-akrab, sesuatu yang hampir tidak mungkin dilakukan sepuluh tahun lalu. Di situ pun saya bisa kenal begitu akrab pada banyak orang padahal saya belum pernah sama sekali bertemu dengannya. Di situ pun saya bisa menyapa orang-orang yang mungkin agak susah untuk sekedar ditemui secara fisik, semisal artis terkenal, pejabat, politisi.

Diri kita juga harus berubah! Tanpa kemauan untuk berubah, terus belajar, membuka wawasan, memperbarui paradigma, memperbaiki perilaku dan kebiasaan-kebiasaan, maka analoginya mungkin kurang lebih seperti kita menempatkan diri kita pada kehidupan seratus bahkan mungkin seribu tahun lalu, walaupun kenyataannya anda hidup saat ini. Bisa anda bayangkan, misalnya suatu saat ditemukan mesin waktu, kemudian ada orang dari seribu tahun lalu hadir di tengah kita. Kira-kira apa yang kita lihat padanya? Kurang lebih begitulah yang terjadi pada diri kita bila kita tidak berkemauan untuk berubah.

Kita mungkin tak pernah tahu perubahan seperti apa lagi yang terjadi sepuluh tahun mendatang. Atau mungkin seratus,.. bahkan seribu tahun mendatang. Tapi menurut saya, apakah perubahan itu menjadi lebih baik atau sebuah petaka, sangat bergantung pada kemauan kita untuk berubah saat ini. Anda boleh tidak sependapat, tapi saya yakin akan hal itu..!

posted by Dodi – Ryan @ 11:20:00 AM 0 comments

http://beranigagal.blogspot.com/

Saturday, November 22, 2008

E M P A T I

E M P A T I

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti Akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata “terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.

Mulailah dari hal-hal kecil-kecil.
Mulailah dari diri Anda lebih dulu.
Mulailah sekarang juga.

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com

posted by Dodi – Ryan @ 3:04:00 PM 0 comments

http://beranigagal.blogspot.com/

Friday, November 21, 2008

Oleh : Andy “Kick Andy” F Noya

posted by Dodi – Ryan @ 3:27:00 PM 0 comments

http://beranigagal.blogspot.com/

MANAJEMEN KINERJA GURU

MANAJEMEN  KINERJA  GURU

 

Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru.

Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja, sebagai :
… sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem. Artinya, ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan, kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi, manajer dan karyawan.

Dari ungkapan di atas, maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru, didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang :
Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru.
1.Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.melakukan pekerjaan dengan baik”
2.Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan, memperbaiki, maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang.
3.Bagaimana prestasi kerja akan diukur.
4.Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya.
Selanjutnya, Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja, komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja.
Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu.

Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja, hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul, solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah, dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar.
Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja, yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan, “ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?”. Metode apapun yang dipergunakan untuk menilai kinerja, penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Pertama, tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain, atau “selalu salahnya guru”. Kedua, tiada satu pun taksiran yang dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut.

Sementara itu, Karen Seeker dan Joe B. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja, yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan, pembinaan, dan evaluasi.
Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran, tanggung jawab, dan ekpektasi yang terukur. Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan,– di mana guru dibimbing dan dikembangkan – mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan, umpan balik, dan penghargaan. Kemudian dalam fase evaluasi, kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Rencana terus dikembangkan, siklus terus berulang, dan guru, kepala sekolah, dan staf administrasi , serta organisasi terus belajar dan tumbuh.

Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran, yang pada gilirannya, menjadi masukan fase berikutnya lagi. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Perencanaan harus dilakukan pertama kali, kemudian diikuti Pembinaan, dan akhirnya Evaluasi.
Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. Dalam hal ini, Ronald T.C. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan, yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran, serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah, pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas.

Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar; (2) bersifat seobyektif mungkin; (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi, dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru .

Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru, sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator, diantaranya :
1.Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Kendati demikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator dalam menentukan hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable)
2.Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran , proses pengajaran dan testing (evaluasi).
3.Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator, seperti : siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi, pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas.
Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak; (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru; (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi; (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik; (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan.

Sumber Bacaan :

Bacal, Robert. 2001. Performance Management. Terj.Surya Darma dan Yanuar Irawan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Boyd, Ronald T. C. 1989. Improving Teacher Evaluations; Practical Assessment, Research& Evaluation”. ERIC Digest. .
Seeker, Karen R. dan Joe B. Wilson. 2000. Planning Succesful Employee Performance (terj. Ramelan). Jakarta : PPM.
*)) Akhmad Sudrajat, M.Pd. adalah staf pengajar pada Program Studi PE-AP FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan

Diterbitkan 3 Februari 2008 manajemen pendidikan
Tags: administrasi pendidikan, artikel, berita, KTSP, manajemen pendidikan, opini, umum
Oleh : Akhmad Sudrajat. M.Pd.”))

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/03/manajemen-kinerja-guru/

Perasaan Iri yang Tak Sehat..!

Perasaan Iri yang Tak Sehat..! Psikologi:

  • Perasaan iri itu wajar, jika masih dalam kategori sehat. Lumrah pula jika perasaan itu terjadi pada anak-anak yang sedang dalam masa perkembangan. Persoalan muncul jika rasa iri tak sehat terjadi pada orang dewasa.

Kasus:

“Ibu Dewi, saya ingin menceriterakan persoalan ini, bukan karena saya mengalami sebagai sasaran iri hati. Saya justru sebagai orang yang melihat bahwa iri hati tampakaya bisa menimbulkan ketidaknyamanan luar biasi bagi orang yang menjadi sumber keirian itu. Ceritanya,  di kantor kami ada seorang teman, sebutlah namanya Ivan yang saya pikir memiliki perasaan iri hati berlebihan. Dia selalu menunjukkan rasa tidak senang terhadap orang lain yang mendapatkan promosi, penghargaan, perhatian. bahkan sekadar pemberian sapaan lebih dulu. Misalnya ada kawan yang ditunjuk menjadi ketua panitia piknik perusahaan, dia akan menunjukkan reaksi tidak suka secara terbuka. Begitu pun jika ada teman yang dikerubuti teman-teman lain karena memiliki bahan cerita menarik atau orang itu menjadi tempat curhat, dia pun menunjukkan ketidaksenangan. Ivan bukannya tidak memiliki kelebihan. Dia cukup cerdas, produktif sehingga memiliki kedudukan lumayan. Sayangnya, dia tampaknya belum dewasa. Kebetulan di kantor kami ada seorang teman, sebutlah namanya Budi, yang lebih junior baik dalam usia maupun pengalaman kerja, namun memiliki potensi dan aneka kelebihan lain dibanding Ivan. Karena itulah Budi lebih cepat naik kariernya. Dibandingkan lainnya, Budi inilah yang paling menjadi sasaran iri hati Ivan. Ketidaksenangan Ivan terhadap Budi sudah diperlihatkan sejak dia baru masuk kerja dan terus berlanjut hingga pada suatu hari Budi berkata pada saya. Sudah tidak kuat lagi saya bekerja di sini. Bukan karena sebab apa pun, kecuali bahwa saya sudah tidak sanggup lagi menjadi objek iri hati Pak Ivan. Saya sangat menyesalkan keadaan ini dan baru menyadari bahwa rasa iri ternyata bisa sangat rnengganggu hubungan kerjasama dalam tim dan perusahaan bisa dirugikan karena kehilangan orang baik dan potensial. Budi akhirnya pindah ke perusahaan lain. Ivan sendirii selama ini cenderung memilih teman-teman dekat yang tingkatnya jauh di bawah dia dalam usia, kedudukan, pendidikan, maupun kemampuan ekonomi. Namun, mereka tampaknya dapat dikendalikan dan diaturnya. Saya sangat mengharapkan penjelasan Ibu Dewi tentang persoalan iri hati ini. Harus diakui, saya sendiri kadang-kadang memiliki rasa iri, tapi tidak sampai sebegitu mengganggu diri sendiri maupun orang lain.”

(Rusty, Yogya)

Jawab:

Perasaan Wajar

  • Benarkah ada rasa iri yang sehat? Kata iri umumnya diartikan tidak sehat. Kalau kita ingat masa kanak-kanak dulu antara satu anak dengan yang lain, antara kakak dengan adik, bisa timbul perseteruan kuat karena salah satu ada yang iri.

Rasa iri yang timbul pada masa kanak-kanak bisa saja dikarenakan salah satu pihak melihat bahwa pihak lainnya mendapat atau mencapai sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak daripada dia.

Rasa iri ini menjadi lebih kuat lagi apabila pada mereka ada perasaan atau anggapan bahwa orang lain tidak berhak atau pantas untuk mendapatkan sesuatu itu. Biasanya mereka yang iri itu menilai bahwa dirinya serba lebih dibandingkan dengan yang lain. Anak-anak yang memiliki rasa iri seringkali menunjukkan sifat-sifat yang kurang baik dalam berhubungan denga lingkungan. Dia bisa menunjukkan sikap permusuhan antara lain dengan tidak mau bicara, mencibir, dan mengolok-olok pihak yang membuatnya iri. Hanya saja, pada anak-anak jangka waktu permusuhan ini cepat berlalu.

Peristiwa seperti ini sering dijumpai pada anak-anak dan dianggap wajar karena mereka masih berada dalam masa perkembangan sosial dan emosional. Mereka masih sulit untuk bisa mengendalikan diri agar tidak menampilkan sikap permusuhan secara terbuka. Dan itu wajar saja.

Namun, jika sikap-sikap seperti yang ditunjukkan oleh anak-anak tadi masih bisa kita jumpai pada orang dewasa, apalagi sudah bekerja, kita dapat mengatakan bahwa dia sebenarnya belum dewasa.

Rasa iri memang bukan hanya milik anak-anak. Sampai tua, orang dewasa pun masih mungkin memiliki rasa iri. Yang seharusnya berbeda adalah cara mengatasi perasaan tersebut.

Sangat Mengganggu

  • Kalau kita melihat pada kasus Ivan, rata-rata orang di sekitarnya menilai bahwa sikap dia kekanak-kanakan. Padahal, teman-teman yang di lingkungan kerjanya mengakui bahwa dia adalah orang yang produktif.

Ivan bahkan diakui sebagai orang yang cerdas, sehingga sangat disayangkan bahwa ia masih memiliki cara-cara yang tidak dewasa seperti itu. Selama sikap Ivan ini tidak mempunyai kaitan dengan masalah kerja sama, artinya kalau pekerjaan dia tidak ada hubungan dengan kepentingan pekerjaan dengan orang lain, sikap iri hati berlebihan itu tidak perlu dirisaukan.

Kita bisa mengatakan bahwa sifat kekanak-kanakannya adalah ciri khas dia yang tidak perlu dipermasalahkan. Namun, apabila sikap yang dia tunjukkan itu berdampak pada orang lain yang harus selalu bekerja sama dengan dia dalam satu kelompok, sikap Ivan ini perlu mendapat perhatian serius.

Mengapa demikian? Tak lain karena sikap yang ditampilkan akibat rasa iri pada dirinya itu sudah dapat digolongkan tidak sehat. Cara Ivan memperlakukan dan menghadapi kawannya, Budi, sudah tidak wajar lagi sebagai orang dewasa.

Budi sudah merasa sangat terganggu kalau harus bekerja sama dengan Ivan. Jelas hal ini akan berakibat pada kinerja yang tidak optimal. Bahkan bisa merugikan unit kerja yang bersangkutan.

Iri Positif

  • Cukup banyak individu dewasa yang masih bisa mempunyai rasa iri kepada orang lain yang lebih berhasil, diakui, dan diperhatikan oleh orang-orang lain.

Namun, perasaan iri tersebut tidak menimbulkan sikap-sikap negatif bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bahkan justrru sebaliknya perasan iri itu memacu dia untuk berusaha melakukan upaya-upaya konstruktif agar mendapatkan apa yang diperoleh oleh orang lain tadi.

Misalnya iri karena orang lain yang menurut dia tidak sepandai dirinya ternyata bisa mendapatkan promosi. Kondisi ini selain menimbulkan rasa iri ternyata mendorong atau menyadarkan dia untuk mencari tahu lebih jauh apa yang membuat orang tersebut dipromosikan dan bukan dirinya.

Bisa saja akhirnya dia mendapatkan jawaban bahwa orang lain tadi dipromosikan karena kreatif dan luwes yang ternyata kedua faktor tersebut tidak dimilikinya. Karena dia juga tetap ingin maju menyaingi rekan tadi, orang tersebut mulai saat itu mencoba menunjukkan keunggulan-keunggulannya secara lebih besar lagi. Inilah yang disebut iri positif atau sehat, lawan kata dari iri negatif atau yang tidak sehat, yang tak merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Penanganan Khusus

  • Kalau Ivan pada dasarnya memiliki perasaan iri kepada Budi dan betul bahwa sikapnya sudah mulai merugikan Budi dalam lingkungan kerjanya, sudah saatnya Ivan diberi penanganan atau pembimbingan lebih khusus.

Dalam hal ini orang yang tepat untuk membantu adalah yang cukup dekat atau atasan langsungnya. Tentu saja tidak dengan menuding bahwa dia telah bersikap buruk, melainkan mencoba menyadarkan bahwa kadang-kadang ada sikap-sikap kerja sama dia yang kurang positif. Bisa juga menyampaikannya sebagai umpan balik di saat yang paling tepat, misalnya ketika penilaian kerja (PK).

Jika Budi belum telanjur keluar atau jika Anda mengalami peristiwa seperti Budi yang menjadi objek iri hati, sebaiknya tetap berusaha berbesar hati datang kepada Ivan atau siapa pun teman Anda, untuk membicarakan atau mengungkapkan perasaan tersebut. Usahakan sebisanya agar persoalan tersebut dapat diselesaikan diantara Anda.@

Jumat, 02 Mei 2003, 12:19 WIB

Jakarta, Jum’at

Oleh: DR. Dewi Matindas, Psikolog

DISIPLIN SEKOLAH MENDONGKRAK MUTU SEKOLAH

DISIPLIN  SEKOLAH  MENDONGKRAK  MUTU  SEKOLAH

 

Sekolah yang menegakkan disiplin akan menjadi sekolah yang berkualitas, baik dari segi apapun juga, benarkah itu? Ini adalah bahasan sekilas dari satu sisi namun justru sangat primer (proses belajar-mengajar saja), tapi ini banyak terjadi di beberapa sekolah.

Konon bagaimanapun atau apapun model dan kualitas inputnya semua akan menjadi berkualitas, semua bisa dilakukan lewat disiplin. Mungkin ada benarnya. Setidaknya membuat lingkungan sekolah berdisiplin, terutama disiplin dalam belajar dan proses mengajar. Yah setidaknya pengkondisian dalam soal disiplin akan membuat image tersendiri di lingkungan sekitar tentang kondisi sekolah.

Disiplin di sini diartikan ketaatan pada peraturan. Dari sini semuanya bermula, sebelum disiplin diterapkan perlu dibuat peraturan atau tata tertib yang benar-benar realistik menuju suatu titik, yaitu kualitas tadi. Lalu mengapa banyak sekolah yang mutunya rendah baik ditinjau dari nilai-nilai siswa, kinerja personal sekolah. Jawabanya mungkin disebabkan masih belum jelasnya peraturan sehingga tidak mudah diaplikasikan, atau buruknya pengawalan penerapan peraturan itu. Dalam hal ini kekurangkonsistenan semua pihak. Bahkan kadang gurupun tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam kelas, sehingga ia hanya mengajar apa adanya terkesan menghabiskan waktu mengajar saja.

Banyak hal yang harus ditangani dalam ranah pendidikan di sekolah, tapi jika itu terlalu berat mungkin bisa saja sedikit dikurangi hanya untuk hal belajar dan mengajar saja. Selama ini yang terjadi di beberapa sekolah adalah seringnya kelas kosong saat jam belajar. Ini dikarenakan guru tidak masuk kelas dan tanpa ada tugas yang harus dikerjakan siswa. Ketidakmasukan guru itu bisa saja karena kepentingan dinas atau yang lain.

Ketidaktepatan dalam hal guru masuk kelas sehingga jeda waktu pergantian jam bisa dimanfaatkan siswa untuk melakukan tindakan indisipliner. Komitmen guru dalam hal ini kadang sering menjadi penyebabnya. Dalam manajemen sekolah, biasanya pengawasan banyak yang tidak bisa berjalan dengan baik, lebih-lebih jika komitmen guru dan siswa rendah maka sekolah-pun akhirnya sulit majunya.

Bagaimana kedisiplinan di sekolah anda dulu atau saat in

http://urip.wordpress.com/2007/04/10/disiplin-sekolah-mendongkrak-mutu-sekolah/

Diterbitkan 10 April 2007 Belajar , Guru , Mengajar , Pendidikan